Gizidat Diary - Ibu Rumah Tangga Yang Bahagia

Gizidat Diary – Ibu Rumah Tangga Yang Bahagia

Gizidat

Bahagia menjadi ibu rumah tangga – Kali ini saya mau open thread untuk sharing berbagi kisah suka duka menjadi ibu rumah tangga. Sebagaimana yang saya alami sendiri dalam menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu dari tiga buah hati saya.

Merantau ikut suami, membangun rumah tangga yang mandiri menjadi pilihan kami sejak menikah. Walau awal pernikahan kami pernah menjadi “kontraktor” beberapa rumah, sampai merasakan menetap di PIM “pondok Indah Mertua” atau juga menetap di rumah orangtua. Berbagai rasa, cerita semua saya alami sendiri dan menjadikan renungan kebijakan dalam mengambil setiap keputusan.

Hingga saat ini yang harus berjuang hidup jauh dari orangtua, merawat ketiga buah hati dan menjalankan kebijakan rumah tangga yang dibuat berdua dengan suami walau masih selalu naik ulur dalam menjalankannya. Kebijakan rumahtangga yang sempat goyah karena bertambahnya anak, financial keluarga bahkan kembali memperkuat kebijakan tersebut setelah badai kehidupan rumahtangga menerpa.

Saat ini kami berdua menikmati indahnya menjalankan kehidupan berumah tangga diusia pernikahan ke enam tahun. Banyak bersyukur dan bertambah sabar serta banyak berdoa.

Awal menikah memang menjadi ‘masa galau’ saya. Di mana posisi saya sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir dengan memiliki pekerjaan mapan disebuah perusahaan asing. Keinginan suami yang sangat sederhana, membuat begitu sulit saya terima dan menjadi benang kusut dalam pikiran saya. Di mana menikah yang hanya memiliki modal cinta dan ketaatan kepada Sang Pecipta kehidupan.

“Teman ketika sudah nikah masih kerja lho, bahkan babynya pun tetap ASI dan ada baby sitternya.” ucap saya

Suami yang pendiam memang jarang banyak bicara. Terkadang suka kasih link artikel parenting untuk dibaca. Saya tahu maksudnya hanya ingin menjadikan saya sebagai ibu rumahtangga yang mulia. Sayangnya, istrinya lebih banyak baca buku dan referensi terkait skripsi. Hingga tak menyadari ada janin didalam perut yang butuh perhatian. Masih sulit mengontrol emosi dan masih panjang list keinginan ini dan itu.

Mengalami keguguran diusia kandungan satu bulan menjadi mimpi buruk di usia pernikahan kami yang baru berumur jagung alias 4 bulan. Dari sini saya yang sangat terpukul sekali. Biasanya pulang suka nangis karena semua pembicaraan orang selalu saya tampung di hati dan pikiran sampai penuh.
“Kok ngontrak sih, bukannya beli rumah. Sama-sama kerja juga?”
“Kok jalan kaki sih, nggak punya motor kali.”
“Kok pergi pagi dan pulang malam. Rumah tangga seperti apa ya!”
“Nggak akan punya anak, istrinya sibuk kerja, kuliah kalau liburan juga pergi lagi ke acara si istri, sok sibuk.”
“Tuh kan, istrinya bocah, nggak bisa apa-apa.”
……………….
Masih banyak lagi dan lagi. Akhirnya penyesalan itu datag belakangan. Kata Pak suami kalau dari depan itu namanya pendaftaran (hihihi), masih saja menyemangati istrinya.

Sama-sama belum pernah tahu melewati masa kehamilan, merawat anak dan sekarang setelah keguguran kami berdua belajar lagi. Tambah dekat dengan orangtua, kalau sakit tanya-tanya dahulu perlu obat atau langsung ke bidan atau dokter.

Alhamdulillah, 3bulan dari pasca keguguran masih diberi amanah lagi. Kini ada janin lagi di rahim saya. Lahir anak pertama dikala saya harus UAS semester akhir dan menyelesaikan sidang skripsi. Kemudian, saya sudah resign kerja di mana 6 tahun lalu saya merintis karier dan sekarang sedang posisi nyaman saya lepaskan semua.

Menjadi ibu rumahtangga sambil belajar membaca buku parenting. Mengurus anak pertama memang menjadi adaptasi saya, banyak “”trial error” dalam pengasuhan bayi (maaafkan mommy ya nak). Kemudian, dua tahun lahir anak kedua. Selang satu tahun setengah lahir pula anak ketiga.

Menghabiskan waktu di rumah sebagai ibu rumahtangga, merawat anak, mengerjakan domestic rumah tangga yang tiada rapinya (hihihi). Ritme indah yang akan menjadi jejak saya membersamai tumbuh kembang anak.

Dari anak-anak itulah saya yang belajar banyak. Belajar mengalah, belajar sabar, belajar menyayangi sepenuh hati, menjadi teman terbaik mereka, menjadi guru yang mereka sukai, menjadi tempat yang mereka rindukan.

Ada hal lain juga yang terkadang masih menyisakan “PR” bagi saya yaitu masih menyimpan mosnter dalam diri saya. Terkadang menjadi makhluk yang menakutkan dikala lelah menyapa, mereka ribut tak ada aturan, serta hal-hal kecil yang seharusnya saya menjelaskan namun kesabaran saya sedang tidak di tempatnya.

Sekarang saya paham, bagaimana satu ibu bisa merawat 10 anaknya. Proses belajar yang panjang menjadi seorang ibu yang kuat dalam membersamai anak-anaknya.

Semoga, moms di sini dapat merekam jejak pada buah hati mom. Menjadi bingkai indah yang akan selalu dikenang anak-anak. Menjadi tempat kembali yang paling dirindukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *