Gizidat Diary – Emak Rempong, Emak Kreatif

Gizidat

Kata Bunda Yoanita Astrid, ibu dan rempong adalah keniscayaan yang paling niscaya. Saking lengketnya, sampai-sampai mustahil untuk dipisahkan.
Nggak tahu, nih, kalo kata Bunda Nia Ramadhani – yang konon katanya punya asisten LIMA BELAS 😂 mungkin hipotesis Bunda Yoanita perlu dipertanyakan, apakah hukum kekekalan rempong itu tetap berlaku atau tidak.
Yang jelas bagi saya, baru merasakan kebenaran rempong itu setelah punya bayi. Benar-benar sebuah kebenaran sejati.

Sebelum-sebelumnya hidup saya kok terlihat santai badai. Lalu setelah mengasuh bayi jadi berbadai-badai. *Duh, jangan dibilang kagak bersyukur, ya, Mak. Ini lagi healing lewat tulisan. Wkwkwk malah curcol.
Rasa bahagia campur tertekan. Seneng campur khawatiran. Happy campur geregetan. Nano-nanoo..

Saya sering berpikir, apa semua ibu muda merasakan seperti saya? Atau saya seorang yang perlu diospek begini indahnya? 😅

Malam yang biasanya tidur sejahtera, berubah jadi perang baratayudha. Merem-melek tak terkira jumlahnya.
Cucian selama ini OK-OK aja dibiarkan menggunung, jadi harus cepat-cepat dibereskan karena kalau sampai menggunung bisa menambah polusi udara *hanya emak-emak yang pro popok tradisional ini yang paham 😅
NgASI yang membuat nafsu makan membara, walau tak gemuk-gemuk juga.
Belum lagi hormon-hormon asing menyusup membuat emosi teraduk-aduk, sensitip tingkat dewa.
Apalagi kalau kebanyakan baca/nonton berita- politik plus kriminal pula – byuuuh, tambah sumuk.
Yaa.. minimal 2-3 bulan pertama ospeknya. Tergantung daya tahan kita.

Tapi pengalaman-pengalaman rempong itulah saya mempelajari pola. Nah, ini share pengalaman saya aja ya, Bund, yang baru punya anak satu berusia 19 bulan. Pengalaman sedikit menyederhanakan kerempongan.

Pertama, memprioritaskan pekerjaan yang mau diselesaikan. Pilah mana yang sebaiknya dikerjakan saat bayi tidur vs saat bayi bangun. Tentu beda-beda prioritas kita ya. Kalo saya buka hape dan laptop adalah salah satu aktivitas saat bayi tidur. Karena kalo si bocil bangun biasanya kurang efektif dua-duanya; misi kita pegang hape + laptop dengan misi menemani anak main.
Saya seringnya lebih seneng beres-beres pas Wahida bangun. Suara kedombrengan malah bikin dia tambah semangat mbantuin dan sesekali ngrecokin. Kalo beres-beres pas dia tidur dipilih yang nggak berisik aktivitasnya, atau yang agak jauh dari kamar.

Oiya, perihal memilah prioritas ini di kelas parenting juga diajari untuk prioritas waktu, alias bikin kandang waktu. Bahasa mudahnya bikin jadwal, apalagi bagi emak-emak yang full di rumah seperti saya. Karena banyak terlenanya 😅 Walopun udah bikin jadwal tapi tetap ga disiplin jugak 😆

Kedua, melibatkan anak dalam aktivitas harian. Ini mempertimbangkan keamanan + usia anak. Kalo bayi lagi aktif-aktifnya sebaiknya dihindari bersentuhan dengan benda panas, seperti menyetrika gitu ya. Atau pertimbangan lain.
Wahida dari jaman bisa merangkak udah sering ikut nyuci dan masak.
Disini biasanya muncul banyak kreativitas, lho, Mak. Nyuci sekalian mandiin, ciprat-cipratan air, bikin gelembung dari sabun, hujan-hujanan pake selang, de el el.
Masak? Wahida bisa ngupas brambang bawang kisaran umur setahun. Hobby malah. Dia tekun banget. Hobbynya itu merembet pada ngupas klengkeng, salak, tempe, dan telur matang. Jadi emaknya bisa lebih leluasa ngerjain lainnya.
Sekarang di usia 19 bulan dia hoby ngulek bumbu. Ya dikepruk ala ala gitu. Lumayan bisa mbantuin emaknya. Mrica, brambang, bawang bisa 50% lembut. Sebagian mencolot keluar dari cobek sih biasa.. Biasa nambah rempong juga 😊

Ketiga, gabung komunitas ibu-ibu kece. Yang di tengah kerempongannya tetep aja rame di grup wkwkwk. Mulai dari yang serius ngobrolin parenting, sampai isinya curhatan aja. Alhamdulillah, dapat ilmu keren-keren. Tapi nggak usah kebanyakan grup juga. Makin banyak teori susah mau aplikasi 😁

Keempat, jangan ragu beraktivitas sosial. Hihi.. ini bukan nggaya, lho, Buk. Di tengah kerempongan kita mikir rumah berantakan, ada hak sosial yang perlu kita tunaikan. Eaaa..
Alhamdulillah saya sedikit-sedikit nimbrung di RKI, Rumah Keluarga Indonesia. Lumayan, walo cuma nyimak bacaan Qur’an beberapa ibu di pengajian masjid kampung. Di majelis seperti itu, beban kerempongan kita sedikit terlupakan. Eh tersederhanakan 😉

Sepertinya udah kepanjangan ini. Padahal baru cerita dari emak beranak satu, yang masih muda belia pula. Gimana kalo kita simak cerita dari bunda-bunda senior lainnya.. Terima kasih meluangkan baca. Ini cuma kadang lebay, merasa jadi emak paling rempong sedunia 😎
Apapun kerempongannya, yang utama pasrahkan pada Allah. Dan yang lainnya pasrahkan pada suami *ups, iyaaa bener. Suami adalah solusi jitu kerempongan istri 😍😍😍

Ini pesan terakhir saya. *Halahh
Kalo lagi rempong, bete, jenuh.. ingat-ingatlah kisah Fatimah az Zahra. Tangannya melepuh karena menggiling gandum, memasak, menimba dan mengangkut air, membereskan rumah, dan segala kerempongan ala ibu rumah tangga. Dia minta pembantu sama ayahnya tapi nggak dikasih. Malah dikasih resep amalan 33 tasbih, 33 tahmid, dan 33 takbir.

Alhamdulillah kita bisa praktek juga. Sambil umbah-umbah baca subhanallah. Tinggal jemur baca alhamdulillah. Udah beres teriak takbir kenceng-kenceng, kayak lagi ikut aksi 212 😆

Nggak usah ngiri sama istri-istri Nabi, yang konon kabarnya tiap istri dapat 1 pembantu dan sopir pribadi.
Biarlah, biarlah.. kita doakan saja para suami mencontoh Nabi dalam memfasilitasi istri wkwkwk..

Salam istri shalihah, emak qowiyyah 🙂
Mama Wahida

#gizidatdiary
#bundahebat
#gizidatbikinbundamakinhebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *