Gizidat Diary - Bahagia Dalam Hal Sederhana Agar Tidak Stress Menghadapi Kerempongan

Gizidat Diary – Bahagia Dalam Hal Sederhana Agar Tidak Stress Menghadapi Kerempongan

Gizidat

BAHAGIA DALAM HAL-HAL SEDERHANA, AGAR TIDAK STRESS MENGHADAPI KEREMPONGAN

Dok..dok..dok..!

Suara ketukan terdengar di pintu kamar mandi. Makin lama makin keras. Padahal baru beberapa menit lalu saya masuk.

“Maaahhhhh…Maaahhhh….”

“Bentaaaaaarr, Naakk… Mamaah mandi duluuuuu…..”

Doook..doookkk….dokk….. Ketukan itu tak mau berhenti. Dengan sangat terpaksa aku mesti mempercepat ritual mandi. Pakai sabun sekadarnya, gak sempat shampoo-an, dan cukup lima guyuran.

Berbeda saat masih gadis, yang bisa mandi selama apa pun. Bahkan kadang sambil nyanyi-nyanyi gak jelas. Tapi mandi bagi mamah-mamah muda kece bisa menjadi persoalan yang begitu krusial dan rumit.

Pas masuk kamar mandi saja sudah ada yang nungguin di luar sambil gedor pintu. Lama dikit aja di kamar mandi, ia sudah menangis. Begitu kita keluar, wajahnya kembali ceria tanpa dosa. Seolah-olah -dan memang sih- ia tidak merasa bersalah sudah mengganggu kenyamanan mandi ibunya.

Tapi yah begitulah namanya punya anak, apalagi kalau usianya masih balita.

Cerita di atas sih cuma sepersekiaaan persen aja dari kerempongan mengurus anak. Dan saya kira semua ibu pasti rempong juga sih.

Rempong yang lain? Buaaaanyaaaaaaaakkkkkkk.

Ceklistnya nih yaa.

Pas tidur. Kalau tidur sama si kecil siap-siap saja deh, kaki si kecil tiba-tiba ada di muka kita. Atau tingkah si kecil yang kemudian berguling-guling. Kesenggol dikit aja, si kecil langsung ngamuk. Pengalaman beneran nih Bund. Bener gak?

Mainan berantakan, udah dirapiin, diberantakin lagi. Oke, sekali sih tidak mengapa. Oke, pakai teori parenting, ajak anak baik-baik untuk merapikan mainannya. Eh, si kecil malah lari-lari sesuka dia. Sambil ketawa-ketawa pula.

“Adeekkk…!!!! Berhenti! Mainannya diberesin..!” akhirnya terpaksa deh kudu menggunakan “suara yang agak keras.” Makanya saya sih gak begitu percaya kalau ada ibu yang gak pernah berteriak atau bersuara tegas sama anaknya. Yang lembut bak bidadari selama 24 jam non-stop. Kalau memang ada, sungguh luar biasa. Bagi tipsnya dong Bund. 

Tapi saya bisa memahami ibu yang kadang “memarahi” anaknya.

Minta gendong tidak tahu waktu dan tempat. Gak mau tahu kalau dunia sedang terancam perang nuklir, gak mau tahu kalau pinggang ibunya lagi sakit, gak mau tahu kalau ibunya lagi masak. Sekali si kecil minta gendong, ya harus dan wajib, di gendong.

Harus sama ibunya. Gak mau sama ayahnya. Gak mau saya simbahnya. Apalagi sama om dan tantenya. Pokoknya kalau si kecil udah bilang, “gendoongg ibuuuu..,” maka solusinya adalah digendong ibunya.

Beberapa waktu lalu juga si kecil lagi suka ngambek begitu. Dikit-dikit minta gendong. Dikit-dikit minta gendong. Rempong banget deh.

Apakah cuma itu kerempongannya? Ya, jelas tidaklah Bunda.

Nyuapi makan. Wah, itu perlu perjuangan besar lho Bunda. Apalagi kalau si kecil memasuki fase susah makan. Hadeuuh.. bukannya ngeluh ya Bund, tapi memang nahan banget buat gak membentak anak.

Kudu punya kesabaran melebihi sabar antrian saat ada diskonan di mall.

Katanya minta telur, dibuatin telur dadar, eh si kecil maunya telur ceplok. Udah diganti telur ceplok, eh si kecil gak mau buka mulut. Maunya nonton yutub. Di putarin yutub, eh malah tetap gak mau makan.

Sebel gak sih Bund?

Alhamdulillah, kini kalau urusan anak susah makan, bisa dibantu dengan madu gizidat. Saya coba ke si kecil, baru beberapa kali minum madu gizidat, nafsu makannya udah lahap.

Tapi ya Bunda, kalau dipikir-pikir dan dianalisa, setiap aktivitas membesarkan anak, mulai dari hamil hingga ia dewasa kelak, selalu mengandung unsur rempong dan ribet yang kadang tidak dipahami oleh para suami. (Karena kalau ibu pastilah bisa memahaminya tho. Betul gak?)

Anehnya nih ya Bunda, termasuk saya, kita semua sebagai seorang ibu tidak pernah keberatan mengalami kerempongan dan keribetan itu. Kita selalu saja bisa menangkap momen-momen bahagia disela-sela stress dan tekanan berat itu.

Kita, sebagai ibu, setelah mengalami itu semua rasanya tidak akan menyesal melakoninya. Bahkan penyesalan kita adalah saat kita tidak bisa memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang si kecil.

Kita menyesal kalau tidak bisa memberikan waktu, perhatian dan kasih sayang. Lalu kita kaget ternyata si kecil tahu-tahu sudah besar.

Karena itu, kita sebaiknya memang menikmati masa-masa rempong itu dengan lapang dada. Dengan bahagia. Percayalah, saat rempong yang begitu besar melanda, kadang dengan melihat si kecil yang tertidur nyenyak dan pulas, melihat wajahnya yang lucu dan imut, memikirkan bahwa dia adalah buah hati kita, itu semua bisa membuat hati kita penuh rasa syukur dan bahagia.

Karena bunda hebat, menurut saya, adalah yang penuh rasa syukur dan bisa berbahagia dalam hal-hal sederhana. Setuju kan Bunda Cantik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *